Notification

×

Iklan

Iklan

Caedmon : Pengembala Sapi yang Menjadi Penyair Terkenal

25 Maret 2025 | 14:19 WIB Last Updated 2025-03-25T07:26:14Z

Caedmon dan Bede (https://creativecommons.org/publicdomain/mark/1.0/deed.no)

Oleh : Surya Effendi 
Sastra Inggris - Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

 
Pasbana - Cædmon pada awalnya dikenal sebagai seorang pengembala sapi Northumbria  di biara ganda Streonæshalch. Ia adalah seorang biarawan dan seorang penyair kristen yang ulung bahkan dihormati sebagai orang suci di Gereja Ortodox Timur. 

Ia hidup sekitar tahun 657 - 684 di biara Streonæshalch (sekarang Whitby Abbey) di bawah kepemimpinan St. Hilda. Sebelumnya ia tidak bisa bahkan tidak mengenal hal-hal tentang syair, namun dalam catatan Bede yaitu Historia Ecclesiastica Gentis Anglorum(Sejarah Gereja Bangsa Inggris), Cædmon memperoleh bakat puisi secara ajaib melalui mimpi.

Dalam catatan Balde, saat masih menjadi pengembala, Cædmon yang dikala itu sedang menghadiri pesta di biara, para biarawan dan tamu biara mengadakan pesta dan bergiliran menyanyi atau bermain musik, Cædmon merasa malu karena tidak bisa bernyanyi. Saat pesta masih berlangsung, Cædmon pergi meninggalkan pesta itu dan pergi menuju kandang hewan untuk tidur bersama hewan-hewan yang ia rawat. 

Disaat tidur, ia bermimpi bertemu dengan sosok makhluk misterius yang mana makhluk misterius itu memintanya untuk menyanyikan lagu tentang penciptaan dunia. Awalnya Cædmon menolak perintah itu karena merasa tidak mampu untuk bernyanyi, namun akhirnya ia mulai menyanyikan puisi pujian kepada Tuhan sebagai pencipta langit dan bumi. Pada saat ia bangun, Cædmon dapat mengingat semua yang ia nyanyikan didalam mimpinya dan melaporkan hal tersebut kepada St. Hilda. 

Saat Cædmon bertemu St. Hilda dan para cendikiawan biara, mereka mulai menguji kemampuan yang dimiliki Cædmon. Mereka meminta Cædmon untuk menciptakan puisi berdasarkan ajaran Alkitab. Alhasil Cædmon berhasil menciptakan puisi tersebut dengan baik, sehingga ia diterima untuk menjadi biarawan. 

Mereka meyakini bahwa kemampuan Cædmon adalah anugerah dari Tuhan. Ia kemudian meninggalkan pekerjaannya sebagai penggembala dan menjadi biarawan untuk sepenuhnya mendedikasikan hidupnya pada seni puisi religius. Setelah itu, Cædmon terus menciptakan puisi-puisi religius yang mengubah ajaran kristen menjadi syair indah dalam bahasa Inggris Kuno. 

Satu-satunya karya Cædmon yang masih ada hingga kini adalah Himne Cædmon (Cædmon's Hymn), sebuah puisi sembilan baris dalam bahasa Inggris Kuno yang memuji Tuhan sebagai Pencipta langit dan bumi. Puisi ini dianggap sebagai salah satu contoh awal sastra Inggris Kuno dan menjadi tonggak penting dalam sejarah sastra Jermanik. 

Cædmon dikenal karena kemampuannya mengubah teks-teks Alkitab menjadi puisi yang indah dan menyentuh hati. Puisi-puisinya sering digunakan untuk menginspirasi orang lain agar lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurut Beda, karya-karya Cædmon memiliki "kelembutan dan kerendahan hati" yang luar biasa. 

Hinggq sekarang Cædmon dianggap sebagai "bapak sastra Inggris Kuno" dan menjadi inspirasi bagi generasi penyair setelahnya. Kisahnya menunjukkan bagaimana seseorang tanpa pendidikan formal dapat mencapai kehebatan melalui anugerah ilahi. Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai simbol transformasi spiritual dan kreativitas artistik dalam tradisi Kristen Anglo-Saxon. 

Cædmon menjani sisa hidupnya dengan menciptakan puisi-puisi religius sebagai biarawan yang taat hingga akhir hayat nya.  Meskipun tidak ada informasi pasti, tapi Cædmon diperkirakan meninggal sekitar tahun 680-an. Sebagai penghormatan atas warisannya, sebuah salib bernama Cædmon's Cross didirikan pada tahun 1898 di Whitby Abbey. (*)

IKLAN


×
Kaba Nan Baru Update