Notification

×

Iklan

Iklan

Mudik Lebaran: Ritual Kolosal yang Menyucikan Jiwa dan Mempertautkan Budaya

25 Maret 2025 | 08:04 WIB Last Updated 2025-03-25T03:17:24Z


Pasbana - "Pulang kampung" bukan sekadar gerakan massa tahunan—ini adalah pesta spiritual, napak tilas budaya, dan ujian ketahanan fisik sekaligus.Bayangkan: jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan kota, rela terjebak macet berjam-jam, demi satu momen—baliak ka ranah bundo, melepas rindu, dan saling memeluk erat sambil berbisik, "Maaf lahir batin."  

Tapi tunggu dulu—apakah mudik cuma tradisi tahunan yang kita jalani tanpa sadar? Atau justru ia adalah ritual multitasking paling sakral: melebur dosa, merajut silaturahmi, sekaligus menguji kesabaran menghadapi kemacetan?  

Mudik: "Tiket Ampunan" yang Harus Ditebus

Dalam keyakinan umat Islam, Ramadhan adalah bulan fast track pengampunan. Tapi Tuhan rupanya memasang syarat tambahan: sebelum mengklaim reward pahala, kita harus menyelesaikan unfinished business—memaafkan dan meminta maaf. Nah, di sinilah mudik menjadi platform-nya.  

Bagi perantau Minang, mudik bukan sekadar urusan batin—ia juga homecoming budaya. Di Ranah Minang, tradisi badunsanak dan kekerabatan matrilineal membuat silaturahmi Lebaran terasa seperti family reunion skala besar. 

Jangan heran jika di tengah acara halalbihalal, Anda akan disuguhi pertanyaan-pertanyaan khas: "Kapan kawin?", "Kapan punya anak?", atau "Sudah naik haji belum?"—semua disampaikan dengan senyum manis, tapi pressure-nya setara skripsi sidang akhir.  

Ramadhan: Lorong Waktu yang Mengubah Kita Jadi "Manusia Sementara"

Selama sebulan, kita berubah jadi makhluk super-spiritual: rajin salat, ngaji, dengar ceramah, bahkan menghindari gosip. Tidur berkurang, tapi energi tetap melimpah—seolah ada battery pack khusus dari langit.  

Tapi begitu Lebaran tiba, switch budaya langsung nyala. Di Minang, selain saling maaf-maafan, ada juga tradisi makan bajamba, manjalang mintuo, atau balimau—ritual yang mengingatkan kita: "Kamu bukan cuma hamba Tuhan, tapi juga bagian dari rantau dan suku yang punya adat."

Antara Macet, Maaf, dan Martabat

Ya, mudik memang ujian kesabaran. Tapi di balik chaos perjalanan, ada satu hal yang tetap worth it: pelukan orang tua, tawa rekan kecil, dan raso jo pareso (rasa dan perasaan) yang hanya bisa dinikmati di kampung halaman.  

Jadi, tahun ini, ketika Anda terjebak macet atau harus menjawab pertanyaan khas keluarga, ingatlah: mudik bukan sekadar jalan-jalan—ia adalah ziarah modern yang menyatukan dosa, doa, dan dendang dendang saluang di hati.  

Selamat mudik—semoga tak hanya sampai di kampung, tapi juga bertemu kembali dengan versi diri yang paling ikhlas.


(Budi)

IKLAN


×
Kaba Nan Baru Update