Payakumbuh, pasbana– Kondisi jembatan konseng yang menghubungkan kecamatan Payakumbuh Utara dan Payakumbuh Timur kian mengkhawatirkan. Meski baru selesai dibangun pada 2024 dengan anggaran Rp1,4 miliar, jembatan konsen itu telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Warga menduga pembangunan jembatan tidak dilakukan sesuai spesifikasi teknis, sehingga memicu abrasi dini pada permukaannya.
Seorang warga, Ujang (54), menyatakan keprihatinannya saat ditemui wartawan, Kamis (3/4) di lokasi jembatan. Ia mengungkapkan bahwa permukaan jembatan mulai terkikis akibat lalu lintas kendaraan roda dua yang melintas setiap hari.
"Baru beberapa bulan selesai dibangun, permukaan jembatan sudah melengkung dan terkikis. Seharusnya ini tidak terjadi kalau pembangunannya benar," ujarnya.
Menanggapi keluhan warga, kepala bidang irigasi provinsi Sumatera Barat, Refdizal, mengatakan pemeliharaan jembatan baru akan dilakukan setelah anggaran perubahan disetujui. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai penyebab kerusakan awal yang terjadi begitu cepat.
"Memang pekerjaan jembatan ini dilakukan saat saya masih menjabat sebagai Kabid Irigasi. Namun, sekarang saya sudah menjadi fungsional. Terkait pemeliharaan, akan dikerjakan setelah anggaran perubahan nanti. Masyarakat dimohon bersabar," kata Refdizal.
Sementara itu, Wisran Ketua LKA Elang Indonesia, Kamis (3/4) di Payakumbuh, menilai ada beberapa faktor teknis yang bisa menyebabkan kerusakan dini pada jembatan ini. Salah satunya adalah mutu beton yang kemungkinan tidak sesuai standar.
"Beton jembatan seharusnya memiliki mutu minimal K-250 atau K-300 agar lebih tahan terhadap abrasi dan tekanan kendaraan. Jika kualitasnya di bawah itu, maka akan cepat terkikis," ujarnya.
Selain itu, Wisran juga menyoroti lebar jembatan yang hanya 1 meter, yang dinilai kurang ideal untuk kendaraan roda dua.
"Standar umum untuk jembatan sepeda motor seharusnya memiliki lebar minimal 1,5 meter agar lebih aman dan tahan lama. Lebar yang terlalu sempit juga bisa mempercepat kehausan pada permukaan beton akibat gesekan roda," tambahnya.
Selain masalah beton dan lebar jembatan, sistem drainase juga dinilai tidak memadai, sehingga mempercepat kerusakan beton akibat genangan air.
"Jika air menggenang di permukaan jembatan tanpa drainase yang baik, maka lama-kelamaan akan menyebabkan retakan dan erosi. Ditambah lagi, tidak adanya lapisan pelindung seperti epoxy atau aspal tipis membuat beton lebih cepat aus," jelasnya.
Dari aspek keamanan, desain pagar jembatan juga dipertanyakan karena tampak kurang kokoh untuk menahan benturan kendaraan.
"Sesuai standar SNI 1725:2016, pagar jembatan harus mampu menahan beban lateral tertentu untuk menjaga keselamatan pengguna. Jika tidak memenuhi standar tersebut, pagar bisa roboh saat terjadi benturan," tegas wisran
Selain itu, Wisran meminta transparansi dalam proyek ini, termasuk audit terhadap spesifikasi teknis pembangunan jembatan dan kualitas material yang digunakan.
Wisran menilai bahwa pemerintah perlu melakukan evaluasi teknis untuk memastikan apakah pembangunan jembatan ini sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dalam kontrak kerja.
"Jika ditemukan adanya penyimpangan spesifikasi, maka perlu ada tindakan tegas, termasuk meminta pertanggungjawaban pihak kontraktor," ujar Wisran.
Masyarakat Payakumbuh Timur berharap agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini sebelum kondisinya semakin parah. Beberapa warga khawatir bahwa jika tidak segera diperbaiki, jembatan bisa menjadi tidak aman untuk digunakan.
"Kami meminta pemerintah turun langsung dan mengecek kondisi jembatan ini. Jangan sampai nanti ada korban baru diperbaiki," kata salah satu warga, Rizal (40).
Dengan kondisi yang ada saat ini, masyarakat berharap agar tindakan cepat diambil sebelum jembatan mengalami kerusakan yang lebih parah. Keamanan dan keselamatan pengguna harus menjadi prioritas utama. (BD)