Notification

×

Iklan

Iklan

Gelombang PHK & Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Di Mana Pijakan Rakyat di Tengah Krisis?

03 April 2025 | 19:36 WIB Last Updated 2025-04-03T12:36:00Z
Foto Ilustrasi (Dok. Istimewa) 




Pasbana – Udara di ruang rapat perusahaan mungkin masih terasa pengap oleh debu keputusan yang baru saja diumumkan: PHK massal. Sementara di layar televisi, janji manis 19 juta lapangan kerja bergema. Antara realita dan retorika, rakyat terjepit.  

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan lagi bisikan di lorong-lorong pabrik, melainkan teriakan yang memecah kesunyian. Dari sektor tekstil, elektronik, hingga manufaktur, ribuan pekerja tiba-tiba tersandung status: pengangguran. Yang lebih pahit? Banyak dari mereka masih menunggu pesangon yang menguap entah ke mana.  

Pemerintah berkoar tentang penciptaan lapangan kerja besar-besaran. Tapi data berbicara lain: industri padat karya justru menyusut. Penyebabnya berlapis—pergeseran belanja ke online, banjir produk impor murah dari China, dan efek sisa pandemi yang belum pulih benar.  

"Kami dijanjikan kemudahan, tapi yang datang malah surat pemutusan kontrak," keluh Andi, mantan pekerja pabrik di Bekasi yang kini beralih jadi ojol.

Kisahnya bukan sekadar statistik, melainkan potret buram daya tahan ekonomi kelas menengah-bawah.  
 
Bagi pelaku industri, PHK kerap menjadi jalan terakhir untuk bertahan. Biaya produksi melambung, permintaan lesu, sementara ketidakpastian global—dari perang dagang hingga fluktuasi pasar—membuat investasi asing enggan menancapkan kukunya di Indonesia.  

Tapi di mana peran negara? Regulasi yang berbelit, birokrasi yang lamban, dan minimnya insentif bagi industri lokal membuat iklim usaha semakin berat. Alih-alih menjadi solusi, banyak pengusaha justru memilih exit.  

Bagi yang terkena PHK, pilihannya terbatas: banting stir ke sektor informal—jadi pedagang kaki lima, driver ojek online, atau buruh serabutan—dengan pendapatan tak menentu. Daya beli pun merosot.  

Namun, krisis bukan akhir cerita. Beberapa langkah bisa diambil:  
1. Upskill atau tersingkir – Kuasai keterampilan baru, baik teknis (hard skill) maupun kemampuan adaptasi (soft skill).  
2. Hemat dan siapkan dana darurat – Krisis mengajarkan satu hal: tabungan adalah tameng terbaik.  
3. Cari celah pendapatan sampingan – Dari jualan online hingga freelance, kreativitas adalah kunci.  

Jika benar ingin memulihkan ekonomi, pemerintah harus:  
- Memangkas birokrasi yang menghambat investasi.  
- Memberi insentif nyata, bukan sekadar wacana.  
- Memperkuat infrastruktur dan SDM agar industri lokal bisa bersaing.  

Sejarah membuktikan, setiap krisis selalu ada ujungnya. Tapi pemulihan tak akan datang sendiri—butuh kebijakan tepat, kerja keras, dan kolaborasi semua pihak.  

Sekarang, pertanyaannya: Bagaimana pengalaman Anda menghadapi krisis ini? Mari berdiskusi di kolom komentar!  

(Redaksi) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update